Skripsi bukan penghalang untuk mendaki~

Pendakian ke Semeru ini merupakan perjalanan drama-tis bagi saya, sidang skripsi tinggal 3 minggu lagi dan saya masih belum menemui dosen pembimbing untuk kelangsungan tugas akhir. Tiba-tiba saja, ajakan untuk ke Semeru menjadi lebih menarik daripada semua itu.

Bab I & Bab II langsung saya kebut agar bisa setoran ke dosen pembimbing. Minimal untuk izin mangkir skripsi agar pendakian ke Semeru tidak menambah beban mental.
Rombongan pendakian kami hanya ber-empat. Masing-masing dari kami hanya mengenal 1 orang. Ajakan itu menyalur dari teman ngajak teman terus ketemu temannya teman, sampai akhirnya kita mengenal satu sama lain. ya begitulah.

Sebelum berangkat ke Ranupani (Desa pemberangkatan ke Semeru), kita bermalam dulu di Malang di rumah saudara sekaligus narasumber untuk meminta arahan dalam perjalanan ini. Karena bagi beliau Semeru adalah tempat "bermain" ketika jenuh (yang merupakan siklus penyakit umum dalam kehidupan yang fana ini). Sesuai arahan, perjalanan dimulai menuju desa Tumpang untuk mengisi bensin full tank lalu melanjutkan ke Basecamp TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) Ranupani.

***

Semua pendaki harus mengikuti briefing sebelum melakukan pendakian dari petugas / ranger. Pada saat briefing, semua perlengkapan dicek terlebih dahulu. Jika perlengkapan dan logistik tidak memadai, ijin pendakian bisa ditunda untuk keselamatan bersama.

Kami melakukan start pendakian pada jam 2 siang, semua bekal sudah beres dan perjalanan ini siap dimulai. Bismillah..

Satu dua tiga langkah, empat enam tujuh langkah, break..

Perjalanan menuju Pos I langsung disuguhkan dengan track mendaki tanpa menurun, lumayan untuk pemanasan dan adaptasi tubuh. Tapi ya harus banyak - banyak break. Pada hari ini tujuan pertama adalah menginap di Ranukumbolo, sehingga harus sudah disana sebisa mungkin sebelum malam.

Tiba di Pos I kami beristirahat lumayan lama agar kaki-kaki siap lagi untuk diajak jalan. Di Pos I ini sudah ada penduduk tengger yang berjualan makanan. Dan mata saya langsung tergoda oleh potongan semangka ukuran besar berwarna merah. Jujur, menurut saya, semangka ini yang paling segar yang pernah saya rasakan!
Jika suatu saat saya berkunjung lagi ke Semeru, semangka disini adalah salah satu tujuan saya untuk kembali.

Perjalanan menuju Pos II sampai ke Ranukumbolo sudah mulai bersahabat, banyak track menurun sehingga perjalanan bisa sedikit santai. Pemandangan sekitar benar-benar hutan dan jalur pendakian hanya muat untuk satu orang, jika berpapasan dengan orang lain salah satu harus berhenti terlebih dahulu. Karena samping kiri/kanan sudah langsung jurang.


Benar-benar hutan dan jalur pendakian sangat sempit


Jembatan setelah pos Watu Rejeng

***

Matahari sudah tertutup oleh bukit-bukit di barat Ranukumbolo, dan tibalah kami di ujung timur yang langsung disuguhkan oleh hamparan telaga yang berada di balik gunung tersebut. Suasana yang damai menambah eksotisme Ranukumbolo sore itu. Kami beristirahat sejenak sambil menghisap oksigen tambahan sebagai pelengkap atas kenyamanan ini.


Suasana sore di timur atas Ranukumbolo


Saya butuh oksigen


Kabut lembut dan hawa dingin pagi hari


Manusia-manusia itu telah keluar dari sarang tendanya 


Ritual mencari angle


The Myth of Tanjakan Cinta

***

Setelah puas bercengkrama dengan Ranukumbolo, perjalan dilanjutkan menuju Pos Kalimati. Seperti biasa, kita harus berada disana sebelum malam, karena ada salah satu jalur pos pendakian yang katanya sering keluar macan pada malam hari.
Setelah perlengkapan sudah selesai dimasukkan di dalam carrier, pendakian pertama adalah Tanjakan Cinta yang super terkenal. Sekilas tidak terlalu tinggi, tapi silahkan dicoba sendiri.
Awalnya saya ingin mengikuti mitos yang beredar. Sambil memikirkan "The someone we can't have", saya dan agyl sudah sampai sepertiga dari tanjakan cinta. Namun karena temen-temen pada usil sambil terus memanggil kami yang sudah berada didepan, dan saya juga tidak ingin malu nanti dikiranya ngebet banget biar gak jomblo, akhirnya kami menoleh. Mereka cengengesan, saya juga ikutan.

Pemandangan Ranukumbolo dari atas sangat keren, dan dibelakang bukit juga terlihat hamparan oro-oro ombo yang tidak kalah kerennya juga. Silahkan pilih tuan...

Di perjalanan, kami bertemu dengan rombongan dari banten yang berjumlah 3 orang, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Lumayan untuk menambah pasukan dan menambah logistik kami yang ternyata sudah tinggal sedikit. Begitulah pendaki, kita bisa langsung akrab walau baru saja kenalan, karena kita mempunyai satu misi, satu tujuan dan memikul beban yang sama. 


Mengikuti adat pendaki millenials


Run.. run.. run.. 


Ala Oro-oro ombo


Seberapapun jauh kita melangkah, jangan lupa arah pulang


Capek..


Capek....


Puncak sudah terlihat, tapi nun jauh disana

***

Magrib, tibalah kita di Pos Kalimati. Di sini adalah pos terakhir sebelum melakukan summit dini hari menuju puncak Mahameru. Kami membangun tenda berdampingan dan membentuk lingkaran agar angin atau hawa dingin tidak terlalu menusuk seperti di Ranukumbolo. Dan ternyata hawa di Kalimati tidak sedingin itu, padahal secara ketinggian disini jauh lebih tinggi.

Kebodohan terjadi ketika anak-anak sudah mulai tidur untuk persiapan summit, saya malah membuat kopi karena saya pikir di gunung paling enak adalah ngopi. Dan benar saja, saya jadi tidak bisa tidur karena itu. Mata terus menatap ke atap tenda dan suara sekitar sudah mulai sepi. Berbagai cara agar bisa tidur sudah saya coba, sampai alarm-alarm pendaki lain sudah mulai bersahutan.
Pukul 1.30 a.m semua pendaki melakukan persiapan untuk summit attack ke Puncak Mahameru, karena insiden kopi dan perlengkapan senter kami hanya 2. Mau tidak mau saya harus menjaga tenda dan mencoba tidur sampai pagi. Mungkin kesempatan untuk ke puncak belum saya dapatkan kali ini, tenang.. masih ada kesempatan di waktu lain.


ini foto mahal!!!

***

Sambil menunggu anak-anak turun dari puncak, saya dan agyl yang bertugas menjaga tenda siap-siap untuk membuat sarapan sekaligus makan siang. Logistik kami tinggal beras sama sarden, untungnya rombongan dari Banten bawa perlogistikan yang sangat amat hedon. Ada ikan asin, sosis, cabe, terasi, telor, tomat, bawang dan masih banyak nama sayur-sayuran yang saya tidak tahu. Intinya kami akan makan besar di gunung!
Enaknya mendaki bareng cewek memang begini, perlengkapan logistik lengkap. Kalau cowok paling mentok bawa sarden sama mie instan, itupun sudah untung mau dimasak.

Jam 9.30 a.m belum ada tandat-tanda rombongan Zacky turun, padahal sesuai himbauan harusnya jam 9 area puncak sudah harus clear dari para pendaki. Biasanya angin dan asap beracun dari kawah (masih aktif) sudah mulai keluar pada jam segini, itu bisa menjadi bencana. Kebanyakan insiden maut di puncak Mahameru sering terjadi karena keracunan asap tersebut.
Kami berdua sempat bingung takut terjadi sesuatu, karena rombobongan yang lain sudah pada turun. Bukannya apa-apa, 4 tenda ini nanti siapa yang akan bawa turun???

"Kesel lek.." suara rombongan tiba-tiba muncul sambil membuka resleting tenda.
Hampir saja kami ingin memanggil porter untuk minta evakuasi kalau saja sampai jam 10 tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Setelah semua beristirahat dan tidur secukupnya, kami memulai memasak semua sisa-sisa logistik yang sudah dibawa. Karena setelah ini, kita akan segera turun langsung ke Ranupani tanpa menginap di Ranukumbolo. Demi efisiensi waktu dan skripsi saya...


Dapur darurat


Jangan salah fokus, itu wortel


Digunung sempat-sempatnya bikin sambel


"Wes mateng rung lek?"


Menu warteg, disini ada!


Jujur, ini makanan terenak saya ketika di gunung. Selamat Makan!

***

Jadi, jangan takut untuk mendaki. Karena ketika kamu berangkat dengan siapa, kamu akan pulang degan lainnya. Itu sering terjadi selama saya mendaki, ada saja teman baru dari berbagai kota dan suka dengan hobi ini.

Dan cerita perjalanan mu satu hari bisa menggantikan keseharianmu satu tahun.


Zacky, Boim, Hari, Rima, Agyl, Aji, Alfin

Credit Photos : @zackymaiyasyaa