Alhamdulillah, Ramadhan kali ini masih dipertemukan kembali. Dan semoga tetap dipertemukan dengan Ramadhan-ramadhan yang akan datang. Saya masih merasa bersalah oleh ramadhan tahun lalu, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan menulis code yang benar-benar menyita waktu. Dari awal ramadhan sampai lebaran, waktu terbuang semua didepan layar monitor. Dari pagi sampai malam, malam sampai sahur dan diulang selama sebulan penuh.

Ya, saya merindukan ramadhan waktu kecil. Dimana dalam satu bulan itu tidak ada waktu sunyi, seakan seluruh malam terasa ramai. Banyak aktifitas untuk melakukan kebaikan. Tetapi semakin bertambahnya umur, ramadhan sekarang berbeda dengan ramadhan-ramadhan yang dulu.

You can't repeat the old story, you must act a new story.

Saya ingin kali ini berbeda, tidak seperti tahun kemarin ataupun ramadhan masa kecil. Saya ingin melakukan sesuatu yang baru bagi saya. Mungkin, dari dulu puasa pertama selalu bersama keluarga, tetapi kali ini tidak. Saya ingin melakukan perjalanan ke kota lain, hanya untuk merasakan suasana ramadhan di tempat orang dan juga ceritanya. [...]

***

Hari #1 puasa

Awalnya, saya ingin berangkat sehabis sahur. Tapi ternyata tiket kereta sudah habis, jadi terpaksa saya melakukan perjalanan siang sebelum buka. Jika hari pertama buka puasa selalu bersama keluarga, kali ini saya bisa berbuka di stasiun. Inilah tujuannya, Act something different. Walau sebelumnya baru saja kejar-kejaran dengan tukang ojek dan cepat-cepat ngejar tiket. ternyata keretanya delay.

Akhirnya, untuk sesuatu yang beda juga. Saya bisa ngoding didalam kereta, dan client menelpon disaat yang tepat dimana pekerjaan baru saja selesai diperjalanan. Beda cerita jika saya naik bus. Tak ada space untuk laptop, perjalanan yang sangat bergelombang dan juga sempit. I got a new experience.

Untuk beberapa hari kedepan, saya numpang di kontrakan teman. Merasakan bagaimana suasana ramadhan seperti anak kosan. Mungkin dulu sudah pernah saya lakukan, tapi saya ingin melakukannya lagi *padahal setiap hari masih sama*.

Sebenarnya, alasan lain kenapa saya melakukan perjalanan ini adalah untuk melupakan beban setelah project, dan juga beban-beban lain yang masih mengganjal. Stres karena pekerjaan dan resah karena hati.


Hari #3 Puasa

Seperti anak kosan lainnya, urusan perut adalah urusan belakangan. Jadi, puasa ataupun bukan kita hanya merubah jam sarapan menjadi lebih pagi sekali. Untuk buka puasa tetap, walaupun magrib jam 6 makan tetap jam 9. Dan saya sangat terbiasa dengan hal ini.†

Untuk pertama kalinya lagi, saya bisa mencoba aplikasi Gojek untuk order takjil dan juga jalan-jalan. Startup ini sangat membantu. Problem yang dipecahkan memang sangat nyata. Ya mungkin, aplikasi seperti ini sudah duluan ada di negara lain. Tetapi di Indonesia, baru mereka yang mengawalinya. Salute!


Hari #6 Puasa

Kedatangan virus hewan. Flu menyebar ke beberapa orang, saya juga terkena impact dari virus teman saya tersebut. Sebelum menambah repot untuk orang-orang sekontrakan, dengan keadaan tepar karena flu dan juga tadi malam yang tidak sahur. Bismillah saya pulang kampung.

Keadaan ini ditambah dengan perjalanan naik bus yang lumayan menyita waktu, macet dan juga penjual mijon yang berseliweran di terminal untuk menjajakan air segar. Itu semua tidak akan bisa menggugat iman saya untuk tetap berpuasa.

Dari dulu, saya tidak pernah lucky ketika naik bus. Maksutnya seperti cerita-cerita dimana didalam bus kamu akan berpapasan dengan teman lama maupun orang baru yang bisa diajak berkenalan yang seangkatan dan berlainan jenis.

Tempat favorit saya di bus adalah pinggir didekat jendala, dimana saya bisa melihat perjalan dan juga cerita di jalan. Cerita tentang kehidupan orang, cerita tentang hidup untuk kebersamaan dan cerita tentang cerita baru yang serharusnya perlu untuk kamu mencarinya.

Sebenarnya, perjalanan kali ini tidak melepas semua beban-beban saya. Karena masih ada beban hati yang ikut terbawa...