Journal

Ramadhan Escape

Aji Ainul Hakim - 06 June 2016 -
Ramadhan Escape
Untuk apa saya berjalan sejauh ini, jika hanya untuk melupakan waktu dan benalu hati?

Alhamdulillah, Ramadhan kali ini masih dipertemukan kembali. Dan semoga tetap dipertemukan dengan Ramadhan-ramadhan yang akan datang. Saya masih merasa bersalah oleh ramadhan tahun lalu, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan menulis code yang benar-benar menyita waktu. Dari awal ramadhan sampai lebaran, waktu terbuang semua didepan layar monitor. Dari pagi sampai malam, malam sampai sahur dan diulang selama sebulan penuh.

Ya, saya merindukan ramadhan waktu kecil. Dimana dalam satu bulan itu tidak ada waktu sunyi, seakan seluruh malam terasa ramai. Banyak aktifitas untuk melakukan kebaikan. Tetapi semakin bertambahnya umur, ramadhan sekarang berbeda dengan ramadhan-ramadhan yang dulu.

You can't repeat the old story, you must act a new story.

Saya ingin kali ini berbeda, tidak seperti tahun kemarin ataupun ramadhan masa kecil. Saya ingin melakukan sesuatu yang baru bagi saya. Mungkin, dari dulu puasa pertama selalu bersama keluarga, tetapi kali ini tidak. Saya ingin melakukan perjalanan ke kota lain, hanya untuk merasakan suasana ramadhan di tempat orang dan juga ceritanya. [...]

CONTINUE READING

Journal

Kenapa tidak uang?

Aji Ainul Hakim - 10 January 2015

Saya sering ditanya kenapa tidak bekerja seperti orang lain. Atau, kenapa lebih sering melakukan pekerjaan yang sifatnya hanya untuk pribadi. Kenapa tidak uang?

"Kenapa tidak uang?"

Jujur, untuk uang saya tidak menolak. Dan saya juga tidak munafik.
Mungkin jika untuk pekerjaan, saya belum membutuhkan untuk masa sekarang. Biarkan saya dengan idealisme saya terlebih dahulu. Bukan sombong atau menolak, saya lebih senang dengan pekerjaan yang sifatnya dari apa yang saya ciptakan dan tentunya lebih bermanfaat untuk orang banyak.

Dulu saya pernah bekerja di sebuah Software house, untuk gaji sudah terbilang lumayan dengan status saya yang masih masa training, bahkan sudah langsung disuruh untuk memegang kantor cabang, ijazah waktu itu masih baru lulus SMK. Tetapi untuk kenyamanan pribadi, saya seperti sedang membunuh diri saya sendiri. 

Untuk usia 20-an, memang kita lebih ingin melakukan eksplorasi terhadap apa yang kita miliki, daripada menjadi mesin cetak yang selalu siap untuk dipakai. Mungkin karena itulah setelah 3 bulan bekerja, saya memilih untuk resign. 

Dalam masa tersebut, saya seperti kehilangan perasaan yang selalu saya rasakan ketika melakukan pekerjaan ini. "Stop, this is knife. Hit your, you are dead man!". Tetapi ketika saya sedang membuat karya kecil atau yang disebut prototype, yang sering saya kerjakan (sebelum dan sesudah masa berkerja), bahkan tanpa ada gaji dari hal tersebut,  "This is your way, see the future? I see.."

Sekali lagi, kenapa tidak uang? [...]

CONTINUE READING