Dalam mem-planingkan perjalanan, kami sering melakukannya secara dadakan. Bahkan tanpa mengenal waktu, tengah malam sekalipun. Dan kemarin secara dadakan pula kami berangkat menuju pantai coro, yang jarak tempuhnya sekitar 2 jam dari tempat kami. Saya yang waktu itu sedang santai diajak untuk pergi, "Ayolah..." kataku.

Pasukan yang terkumpul sudah 10 orang, nggak usah saya perkenalkan satu-satu, pasti nanti kamu bingung untuk menerka-nerka. Kami berangkat jam 5 sore, setelah salah satu motor ada yang bermasalah, namanya juga dadakan. Dan lagi pula dari sepuluh orang ini belum ada satupun yang tahu arah menuju pantai coro. haha.. buat apa GPS?

Magrib kita sampai di kabupaten Trenggalek, dan pantai coro itu terletak di kab.Tulungagung. Ishoma sejenak di minimarket yang berjejer disana, ngopi-ngopi dulu, buka maps dulu, dan gila-gila sedikit. Jika sedang bersama kadang kami sering melakukan hal-hal ngawur, misalanya joget-joget di Indomaret, ngecengin mbak-mbak kasir, dan yang jelas itu bukan saya. 
Setelah cukup 'gila', perjalanan dilanjutkan dengan bimbingan GPS yang menunjukkan arah ke pantai.

Karena mungkin di Indonesia GPS dibuat seadanya. Jalan yang dilalui bisa dikatan parah, lewat tengah-tengah sawah, berbatu dan sangat rusak. Kemudian masuk hutan, sampai-sampai tersesat lebih dari 2 km. Sekarang kita butuh GPS (Gunakan Penduduk Setempat), ya benar.. kami sudah salah jalan.

Dengan perasaan yang was-was, kami balik arah dan berhenti disebuah warung sebelum masuk hutan tadi. Jam menunjukkan pukul 7, berarti yang harusnya sudah sampai, kita masih tersesat sambil ngopi. Kata orang, yang harus kamu lakukan ketika sedang tersesat adalah nyantai, jangan biduh. Dan itu benar, membuat pikiran jadi lebih terbuka.
Kami tanya bapak-bapak yang ada disitu. Ternyata, mereka juga gak tau pantai coro. Akhirnya kami biduh, anak-anak pada kejang dan step karena kelaparan. Oiya, ini kan warung? ...

Tapi ternyata ibu-ibu pemilik warung tau tempat tersebut, kita dikasih tau arah yang rute-nya sangat gampang, gobloknya kami terlalu percaya GPS. Lanjut lagi perjalanannya, sambil dengerin lagunya Iwan fals - Pulang kerja. Gak papa, enak aja didengar. Suasana jalan juga lumayan sepi, kanan-kiri pohon dan gelap. Tak ada kendaraan yang melintas, dan motor ada yang mogok lagi. Kereen!

***

Sampai di area pantai sekitar pukul 8.30 malam. Motor dititipkan di rumah warga yang memang dijadikan tempat untuk penginapan motor. Dan katanya untuk menuju pantai masih harus berjalan kaki selama 30 menit, melewati hutan lagi. Untungnya kami bersepuluh dan bawa senter. Jadi, kalau ada apa-apa kita masih rame. 

Lumayan capek jalan-jalan di hutan malam-malam, dan tentunya sangat gelap. Untuk menghindari adanya rombongan yang hilang, kita selalu berhitung untuk mengecek jumlah personil. Tapi Alhamdulillah semua aman. 
Setelah berjalan sekitar 20 menit, suara ombak sudah mulai terdengar. Senang sudah pasti, berarti kami tidak sedang tersesat lagi. Seakan capek itu perlahan-lahan hilang, hanyut bersama suara ombak. Dan itulah hadiah yang setimpal waktu itu.

Tidak ada orang, pantai sangat sepi, hanya suara ombak bergemuruh. Tempat itu milik kami sekarang. Sambil menyulut rokok, kami duduk-duduk sebentar diatas pasir, melepas lelah yang masih tersisa sedikit, biarlah rasa itu terlarung bersama ombak, tapi jangan sama orangnya. 
Lanjut lagi jalan-jalannya menusuri pantai, nyari tempat yang nyaman untuk membangun tenda malam itu. Di pinggir pantai ada sebuah gubuk kecil, seperti warung untuk istirahat. Ternyata tempat ini memang sudah mulai rame untuk wisata, kami mendirikan tenda disitu dan menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh sambil bikin kopi.

Suasana malam seperti inilah yang akan selalu dirindukan. 
Malam, api unggun, tenda, kopi, dan kumpulan teman-teman yang selalu ada cerita walau tanpa cerita. Oh.. don't waste this time.

Malam itu kami bermain dipinggir pantai, mumpung air laut sedang surut, jadi terlihat agak luas. Sambil foto-foto landscape, kali aja dapet milkyway. Tapi sayangnya bintang malam itu gak terlalu banyak, arak-arakan awan menutupi langit malam itu. Saya jadi pengen ikutan ambil foto dengan menggunakan HP, tapi hasilnya malah seperti sebuah lukisan tua yang berisikan manusia-manusia purba yang hidup di sekitar pantai dan sedang melakukan aktifitas mencari lumba-lumba.


Penampakan manusia-manusia purba.

Pantainya lumayan luas, jadi cukup melelahkan ketika menusurinya sambil lari-larian. Kami yang saat itu butuh asupan api dan kopi, menyalakan lagi api unggun yang sudah padam sambil rebahan di atas pasir, tentu ada tikar diatasnya. 
Karena memang sudah lumayan lelah, anak-anak sudah tidur didalem tenda, saya yang masih pingin merasakan udara pantai tiduran didekat api unggun bersama 4 orang lainnya, ngobrol ngalor ngidul dengan candaan-candaan yang membuat kami selalu tertawa. Seakan pantai ini milik kami sekarang, setidaknya untuk malam ini. 
Perlahan-lahan dan tanpa disadari kami mulai tertidur pulas.

***

Pagi itu.. Saya kaget! Air laut ternyata sudah pasang, hanya berjarak 2 meter dari tikar, hampir saja saya hanyut terseret ombak. Ternyata yang tidur di tikar tinggal saya seorang. Semua pada tidur di dalam tenda. Dan yang lebih kaget lagi, pantai itu tiba-tiba sudah banyak pengunjung. 

Dimana anak-anak yang tadi malam main bersama? Dimana pantai yang tadi malam sangat sepi? ...

Bukan cuma pantainya, ternyata pantai coro juga memiliki objek wisata lain. Jalur hutan yang kami lewati tadi malam ternyata untuk jalur track anak motor cross. Juga terdepat candi sewu yang letaknya didekat area parkir sebelum masuk hutan tadi. Dan juga tebing banyu muluk, terletak disebelah pantai. Mungkin dinamakan banyu muluk (Air terbang) karena ombak laut selatan yang selalu besar langsung menabrak tebing karang dan airnya muncrat ke atas. Disitu kita bisa lihat samudra hindia langsung tak berujung. Kalau cuaca cerah dan pandanganmu sangat tajam + pake lensa tele, kamu bisa lihat Australia lengkap dengan kanguru yang sedang main trampolin.

Semakin siang pantainya sudah seperti tempat penampungan banjir, rame padet. Banyak anak-anak kecil yang baru akhil baliq. Serta rombongan anak-anak cross. Memang, pantai coro baru tenar akhir-akhir ini, karena di endorse oleh pasukan MTMA dari Trans TV. 
Kata bapak-bapak pimilik warung disekitar pantai, dulu tempat ini belum banyak pengunjung. bahkan warung-warung tidak ada, WC apalagi, sekarang sudah mulai rame, dan WC Kamar mandi sudah mulai dibangung. Penduduk jadi punya lahan baru buat nyari rezeki. 

Semua senang, kami senang, bapak-bapak pemilik warung senang, mas-mas pembuat WC senang, dan pak Presiden juga senang. Alhamdulillah...